koranmakassaronline.com – Ketua Mahkamah Agung (MA) Hatta Ali mengakui prihatin sebab Baiq Nuril diberi hukuman penjara. Tetapi dia tidak dapat memberi komentar materi inti masalah masalah itu selanjutnya.

“Jika kita lihat sekilas, seakan-akan mungkin hakimnya salah. Tetapi, jika didalami kasusnya, mungkin kita dapat beralih pikiran. Saya awalannya, kasih contoh yang di Mataram, NTB, saya juga prihatin ikut hakimnya kok menghukum. Nyatanya runtutannya kasusnya panjang,” kata Hatta Ali.

Hal tersebut dikatakan dlm refleksi akhir tahun MA di akhir Desember kemarin. Refleksi itu didatangi oleh Wakil Ketua MA Yudisial Syarifuddin, Wakil Ketua MA Nonyudisial Sunarto, serta pimpinan MA yang lain.

“Saya tidak pada tempatnya, karenanya adalah independensi hakim. Yang terpenting tegakkan hukum serta keadilan. Mungkin keadilan itu yang disaksikan,” tutur Hatta Ali.

Baiq Nuril diberi hukuman oleh majelis kasasi dgn ketua Sri Murwahyuni dgn anggota Edy Army serta MD Pasaribu. Ketiganya menghukum Nuril dgn hukuman 6 bulan penjara serta denda Rp 500 juta. Jika tidak membayar denda, hukumannya ditambah 3 bulan kurungan.

“Karena tindakan terdakwa, karir Haji Muslim menjadi kepala sekolah berhenti. Keluarga besar malu serta kehormatannya dilanggar,” demikian fakta pertimbangan kasasi dgn ketua majelis Dr Sri Murwahyuni.

TINGGALKAN BALASAN

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini